Ditulis oleh Nadia Rahmatin (NutriChampion Kabupaten Lombok Barat)
“Agent of change” merupakan kalimat sematan yang sangat lekat dengan generasi muda, sebagai harapan untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045. Pada tahun tersebut, genap satu abad kemerdekaan Indonesia dan mengalami bonus demografi yakni jumlah masyarakat berusia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar daripada usia non-produktif (65 tahun keatas). Generasi muda saat ini yang akan berperan melanjutkan estafet perjuangan dan akan menentukan nasib Indonesia di masa depan.
Sebagai harapan bangsa di masa depan, sudah sepatutnya generasi muda untuk memperhatikan diri sedini mungkin, terutama dalam hal kesehatan. Dilansir dari website Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, ada empat masalah kesehatan yang dinilai paling sering dialami remaja Indonesia, dua diantaranya anemia yang merupakan kekurangan zat besi dan stunting yang merupakan kondisi dimana anak lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 26,8% anak usia 5-14 tahun dan sebanyak 32% anak usia 15-24 tahun menderita anemia, itu artinya 3 dari 10 orang menderita anemia. Anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga penderitanya mudah terkena penyakit infeksi. Selain itu, anemia pada wanita subur akan terbawa hingga menjadi ibu hamil, yang dapat mengakibatkan mengalami pendarahan serta mengancam keselamatan bayi. Kemungkinan besar bayi yang dilahirkan akan mengalami stunting.
Menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. Pada tahun 2024, Indonesia memiliki target penurunan prevalensi stunting menjadi 14%. Namun, saat ini angka stunting di Indonesia masih di angka 21,6%, hal ini masih tergolong tinggi.
Dari kedua kasus ini bisa kita lihat bahwa pentingnya bagi para remaja, generasi muda untuk menjaga asupan gizi yang optimal, sesuai dengan kebutuhan tubuh. Memperhatikan setiap makanan yang dikonsumsi mulai dari kandungannya, labelnya, dan kondisi makanannya, apakah layak untuk dikonsumsi, sehat bagi tubuh kita atau tidak?
“Mengkonsumsi makan yang optimal sebagai salah satu bentuk mencintai diri sendiri (self love) dan sebagai bentuk cinta bangsa.”
Self love bukan hanya tentang menerima semua kekurangan, tidak membandingkan diri dengan orang lain, memberikan kontribusi dan bermanfaat bagi orang lain, melainkan juga bisa kita lakukan dengan memperhatikan asupan makanan yang kita konsumsi setiap hari, memilih makanan yang sehat, lebih aware dengan kondisi gizi lingkungan sekitar, serta menciptakan lingkungan yang sehat. Generasi muda yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat pula. Selain itu, asupan gizi yang optimal dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan tubuh akan membantu pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, menghasilkan energi dan meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga kita tidak mudah terkena berbagai macam penyakit.
“Self love dan cinta bangsa bukan hanya memenuhi semua keinginan dan mentaati semua aturan namun dapat berupa memenuhi hak kebutuhan gizi tubuh, menjaga kesehatan tubuh yang menjadi harapan bangsa dimasa yang akan datang.” Nadia Rahmatin.
Sumber:
Kemenkes RI. 2022. Remaja Bebas Anemia: Konsentrasi Belajar Meningkat, Bebas Prestasi. [Online] Diakses melalui
https://ayosehat.kemkes.go.id/remaja-bebas-anemia-konsentrasi-belajar-meningkat-bebas-prestasi
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. 2023. 149 Juta Anak di Dunia Alami Stunting Sebanyak 6,3 Juta di Indonesia, Wapres Minta Keluarga Prioritaskan Kebutuhan Gizi. [Online] Diakses melalui
Kemenkes RI. 2022. Mengenal Apa Itu Stunting… [Online] Diakses melalui https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting
Sumber Gambar:

