Edukasi Gizi dengan Journaling: Kisah Faulindra sebagai NutriWISE Ambassador 2024

Gaya hidup sehat semakin mendapatkan atensi dari masyarakat akhir-akhir ini, terutama di kalangan Gen Z yang sudah terbiasa dengan pola tidur berantakan dan konsumsi makanan serba instan. Salah satu isu yang sering diabaikan adalah konsumsi GGL (gula, garam, lemak) yang berlebihan, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif sejak usia muda. 

Menyadari pentingnya edukasi tentang pola makan sehat, Faulindra Dita Arsanti, seorang NutriWISE Ambassador 2024 asal Yogyakarta, menginisiasi proyek unik dengan pendekatan journaling untuk meningkatkan kesadaran akan pembatasan GGL di kalangan mahasiswa.

Melalui program ini, Faulindra berhasil menciptakan metode edukasi yang lebih interaktif dan menyenangkan, sehingga peserta tidak hanya memahami teori tentang gizi seimbang, tetapi juga dapat secara praktis menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yuk, simak kisah seru Faulindra mengedukasi pembatasan GGL kepada mahasiswa Yogyakarta melalui konsep journaling!

Faulindra, NutriWISE Ambassador 2024 Asal Yogyakarta

“Sharing is Caring”, sebuah filosofi kehidupan yang terus Faulindra amalkan sejak mendapatkan kesempatan magang di Nutrifood, sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam bidang industri makanan dan minuman.

Lebih lanjut, Faulindra menjelaskan bahwa selama masa magang, ia belajar banyak hal dari filosofi kehidupan yang diajarkan oleh Nutrifood. Di mana dalam menjalani sebuah kehidupan, kita tidak hanya sekedar bertahan hidup, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memberikan makna kepada orang lain walaupun hanya sekedar hal yang kecil.

Berangkat dari prinsip inilah, Faulindra akhirnya memutuskan untuk mengikuti program NutriWISE yang ia temukan di platform Instagram pada 2024 silam. Adapun NutriWISE ini juga memiliki nilai serupa terkait prinsip membagi kebermanfaatan bagi orang lain, yaitu program ini melakukan pemberdayaan masyarakat agar dapat berperan sebagai agen perubahan dalam mewujudkan gaya hidup yang sehat di Indonesia.

Terlebih, secara khusus Faulindra juga memiliki ketertarikan sendiri mengenai gaya hidup mahasiswa. Utamanya, Faulindra mengamati bahwa mahasiswa terbiasa untuk begadang dikarenakan tugas yang menumpuk. Kebiasaan ini membuat para mahasiswa juga terbiasa untuk sering meminum kopi setiap harinya.

Selain itu, mahasiswa juga sering mengabaikan takaran maupun kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi karena sering mengonsumsi makanan instan. Terlebih, jika membeli makanan di luar, kebanyakan tempat makan juga tidak menyediakan informasi kandungan gizi yang terkandung pada makanan. Padahal pengabaian terhadap konsumsi harian GGL ini juga dapat berdampak pada timbulnya penyakit tidak menular di usia muda.

“Sekarang itu kan banyak penyakit tidak menular kayak misalnya diabetes dan batu ginjal yang disebabkan karena pola hidup kita yang kurang sehat. Dan itu terjangkitnya justru di usia muda gitu loh. Padahal kan biasanya penyakit-penyakit kayak gitu kan di usia yang udah lanjut gitu ya. Jadi aku punya concern  (mengedukasi) ke (arah) sana,” ungkap Faulindra.

Konsep Unik: Edukasi Gizi melalui Food Journaling

Mengutamakan prinsip interaktif dan menyenangkan, Faulindra berhasil menyelenggarakan edukasi gizi dengan mengusung konsep food journaling kepada 10 mahasiswa di berbagai daerah Yogyakarta. Adapun acara ini telah diselenggarakan di Nutrihub Yogyakarta pada Sabtu (5/10/2024).

Lebih lanjut,  journaling sendiri merupakan metode edukasi yang melibatkan kebebasan untuk menuangkan ide dan kreativitas dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, setiap peserta mendapatkan NutriWISE Journaling Kit yang terdiri dari journal book, bolpoin, dan beragam stiker yang Faulindra desain sendiri.

Pada praktiknya dalam proyek sosial Faulindra ini, metode journaling ini merupakan metode yang sangat bagus untuk membagikan ilmu kepada peserta yang mana peserta tetap dapat menikmati edukasi yang diberikan secara relax. Bahkan, metode journaling ini bisa membuat peserta ikut berpartisipasi aktif dan mempunyai catatan sendiri yang dapat dibawa pulang.

“Awalnya aku tuh bingung ya, gimana kita tuh bikin suatu acara yang berbeda dan interaktif serta teman-teman tuh bisa memberikan feedback ke aku. Jadi, aku pertamanya tuh kayak kepikirannya apa yang bisa mereka bawa pulang, enggak cuman kayak ilmu, tapi mungkin mereka juga bisa senang-senang gitu. Nah, aku kepikirannya journaling,” cerita Faulindra.

Lebih lanjut, Faulindra juga bercerita bahwa ide ini juga sangat disambut baik oleh mentor dan tim Seribu Projects. Terlebih, mahasiswa merupakan sasaran yang tepat untuk menerapkan metode journaling ini karena mereka suka membuat catatan, jurnal, maupun melakukan hand lettering.

Salah Kaprah Program Diet Pada Mahasiswa

Meskipun sempat insecure karena bukan dari background Gizi, Faulindra nyatanya mampu membuktikan bahwa metode journaling dapat menjadi sesi diskusi gizi yang tetap menarik bahkan bagi peserta yang berasal dari latar belakang gizi sekalipun.

“Jadi waktu itu aku juga sempat kayak ngerasa insecure gitu kan, waktu tahu pesertaku tuh mostly dari anak-anak gizi gitu. Tapi dengan kegiatan journaling ini ternyata tuh mereka jadi sangat-sangat antusias. Aku (bahkan) bisa kayak ngasih insight ke mereka tentang gimana sih pemenuhan gizi dan juga batasi GGL ke program dietnya mereka,” ujar Faulindra.

Ya, ternyata pada parktiknya di lapangan Faulindra masih banyak menemukan salah kaprah mengenai aktivitas diet yang dilakukan mahasiswa. Diet sering kali dianggap sebagai momok yang menakutkan yang membuat kebanyakan orang terlalu ketat membatasi konsumsi makanan harian mereka. Pada kebanyakan kasus, sering kali diet ini berujung mengorbankan makanan enak yang seharusnya masih dapat dikonsumsi untuk kebahgiaan diri sendiri.

Lebih lanjut, Faulindra mengungkapkan bahwa setelah event ini selesai ia banyak mendapatkan feedback baik dari peserta tentang bagaimana mereka aware dan mulai paham terhadap pembatasan GGL harian ini.

Para peserta menjadi lebih tahu bahwa diet itu nyatanya bukan hanya sekedar skip-skip makanan saja. Tetapi juga gimana caranya kita tetap dapat harus memenuhi kebutuhan gizi, terutama makronutrien dan mikronutrien. Sehingga, kita tetap dapat mengonsumsi gula, garam, dan lemak meskipun sedang diet asalkan dalam kadar yang sewajarnya.

Rantai Ilmu yang Lahir dari Program NutriWISE

Secara keseluruhan, Faulindra sangat menyukai proses memberikan ilmu yang berantai dari program NutriWISE ini. Adapun ilmu yang Faulindra dapatkan dari kelas materi dan mentoring dapat Faulindra salurkan kepada peserta kelas journaling-nya, yang pada akhirnya hal ini dapat menjadi efek domino positif ketika para peserta pun ikut membagikan ilmunya kepada teman-teman atau orang-orang di lingkungannya.

“Menurut aku untuk NutriWISE Ambassador ini program yang kalau bisa ada untuk setiap tahunnya sih. Karena program ini tuh bagus banget. Kita dari berbagai daerah di Indonesia tuh ternyata bisa bekerja sama dan belajar bareng. Serta bisa bermanfaat untuk orang lain, kayak memberikan ilmu yang berantai dan jadi efek domino yang positif ke orang-orang di luar sana,” ucap Faulindra.

Lebih lanjut Faulindra juga mengungkapkan bahwa ilmu mengenai pembatasan GGL dan pemenuhan gizi ini dapat memberikan manfaat kepada dirinya sendiri untuk lebih aware terhadap gaya hidupnya. Terutama dalam memilih makanan, bukan dari bahaya atau tidaknya tetapi dari bermanfaat atau tidaknya bagi tubuh.

Terakhir, melalui program NutriWISE 2024 ini Faulindra juga berpesan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan apa yang dikonsumsi. Hal ini dikarenakan saat kita mengonsumsi makanan, mungkin efek kesehatannya baru akan terasa beberapa tahun ke depan. Selain itu, Faulindra juga menekankan bahwa pembatasan GGL juga tidak harus dilihat sebagai momok yang menyeramkan dan harus dihindari.

“Yang penting kita tuh paham apa yang kita makan, jumlah kandungan gizinya seperti apa, kandungan gizinya apa aja, apakah itu bermanfaat untuk tubuh atau enggak gitu. Jadi jangan sampai kita menganggap makanan itu kayak seakan-akan racun atau yang enggak sampai kita konsumsi sama sekali gitu. Kita juga butuh yang namanya soul food untuk menyenangkan diri sendiri gitu kan,” ucap Faulindra sebagai penutup.

#NutriWISE #PembatasanGGL #Journaling #EdukasiGizi

Share

Post Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *